Lanjutnya, dengan adanya sistem algoritma ini dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Karena, tidak semua dapat mengenali kenginan masing-masing.
Baca Juga : Chat GPT Setara Otak Manusia, Founder Apple : Sangat Mengesankan
“Efek sistem algoritma saat ini berkontribusi pada perpecahan masyarakat, di mana kita semua tidak bisa memahami satu sama lain. Kita semua terpecah menjadi kelompok-kelompok yang punya kebulatan suara dan keseragaman, sehingga mencegah adanya konsensus masyarakat berskala besar,” ia menjelaskan, dikutip dari Guardian, Senin (13/3/2023).
Tergantung Pengguna
Algoritma tersebut akan bereaksi dari manusia itu sendiri dan begitupun juga sebaliknya. Sehingga, hubungan timbal balik ini akan memberikan efek buruk bagi manusia.
“Butuh waktu bagi saya untuk sadar bahwa kita semua tak punya kontrol pada sistem, dan bahkan para pencipta sistem ini punya kontrol yang sangat kecil dibandingkan yang kita bayangkan,” terangnya.
Sistem algoritma yang menjadi besar di media sosial selanjutnya dijadikan tulang punggung buat semua teknologi yang ada kala ini, mulai dari mata uang kripto sampai Metaverse serta implementasi AI lebih lanjut.
Baca Juga : Rahasia Google dan Facebook Bakal Dibongkar di Eropa
Dia baru saja menyelesaikan bukunya Meganets: How Digital Forms Beyond Our Control Commander Our Daily Lives and Inner Reality. Dalam peluang itu, ia juga berupaya menginterpretasikan meganet.
Meganet adalah jaringan data yang berkembang terus dan arahnya menjadi muram, akan tetapi memiliki intensitas besar untuk pengaruhi cara umat manusia memandang dunia.
Baca Juga : Pembocor Rahasia: Facebook Utamakan Profit daripada Keamanan
Sumber : CNBC Indonesia
Cek Berita dan Artikel Yang Lain di Google News








