Teknomacro.com – Ribuan pendemo di Rusia berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian Rusia dengan bantuan teknologi Amerika yang mana fungsinya untuk identifikasi wajah atau facial recognition yang terdapat disepanjang jalan kota Moskow.
Daftar Isi
Demo Invasi Rusia Ke Ukraina
Pada akhir minggu lalu, kepolisian Rusia mengamankan lebih dari 4.400 orang yang melaksanakan demo di jalanan menuntut invasi Presiden Vladimir Putin ke Ukraina. Mereka menyerukan imbauan “no to war!” (katakan tidak pada perang).
Baca Juga : Resah! Hacker Rusia Sebabkan Kemacetan Jalanan Moscow
Tetapi, ternyata gerak cepat polisi menangkap para pelaku demo ternyata berkat dukungan teknologi pengenal wajah buatan Amerika Serikat (AS).
Pada 2017 lalu, sejumlah 160.000 kamera dipasang di sepanjang jalan kota Moskow. Tidak kurang dari 3.000 di antaranya telah dilengkapi teknologi facial recognition, menurut Departemen IT Moskow.
Baca Juga : Akhirnya! Amerika Temukan Balon Pengintai Dari China, Apa Isinya?
Laporan Reuters menyebut bahwa teknologi AS digunakan Rusia untuk mengakhiri protes massa anti-pemerintah pada 2021 lalu. Setelah itu, sesudah penyerangan ke Ukraina tahun lalu, teknologi itu kembali digunakan untuk melawan demo anti-perang.
Selain itu, untuk mengenali dan ringkus oknum-oknum yang melawan pemerintahan Putin, dikutip dari Insider, Selasa (4/4/2023).
Baca Juga : Tim Riset AS Akan Teliti Nuklir Di Kalimantan, Apa Potensinya?
Salah satu contohnya, pada Mei lalu kepolisian mengamankan seorang warga yang menggenggam spanduk bertuliskan “perdamaian buat Ukraina”. Setelah diamankan, orang itu diinterogasi perihal pemikirannya atas Putin serta perang Ukraina.
Teknologi Amerika (Facial Recognation)
Menurut keterangan tersebut 3 perusahaan Rusia serta 1 perusahaan Belarus memakai chip yang dirancang perusahaan AS, Intel dan Nvidia, untuk melatih sistem algoritma pada teknologi facial recognition.
Baca Juga : Rusia Dilanda Beberapa Demo, Putin Goyang?
Menurut penemuan Reuters dari dokumen pidana Rusia, perusahaan Rusia dan Belarus juga ikut serta dalam program percobaan facial recognition dari perusahaan AS. Salah satu perusahaan justru diberikan uang US$ 40.000 (Rp 599 juta) dari “salah satu tangan intelijen AS”.
Sampai sekarang belum ada bukti bahwa Intel dan Nvidia telah melanggar peraturan AS. Kedua raksasa teknologi itu mengatakan mereka telah menunda pengiriman peralatan ke Rusia setelah ada pengetatan perdagangan antara AS dan negara tersebut.
Baca Juga : Polisi Rusia Tangkap 1.300 Orang dalam Demonstrasi Menolak Mobilisasi Warga Rusia untuk Perang Ukraina
Sumber : CNBC Indonesia







