Disamping itu, mereka juga mempelajari tekstur dan komposisi tiga partikel debu yang dikumpulkan dari Itokawa. Para ilmuwan gunakan mekanisme penanggalan radioaktif untuk mengukur usianya.
Selain itu, mereka juga mengukur seberapa banyak partikel debu yang telah terpengaruh oleh guncangan dari tabrakan asteroid. Oleh karena itu, mereka gunakan cara lain yang disebut difraksi hamburan balik untuk mencari susunan dan orientasi kristal yang ada di dalam partikel tersebut.
Mereka menemukan sebagian partikel tersebut merupakan debu murni. Sehingga ini membuktikan partikel itu dikeruk dari induknya yang diperkirakan pecah selama terjadinya tabrakan bencana. Para ilmuwan kemudian menyimpulkan bahwa Itokawa tahan terhadap hantaman dikarenakan sifatnya yang sangat keropos.
Baca Juga : Terbukti! Matahari Sebenarnya Berwarna Putih, Apa Sebabnya?
Sebagai gabungan dari sisa tabrakan asteroid, Itokawa mewadahi batu besar dengan berbagai macam bentuk.
“Seluruhnya terbuat dari batu-batu besar dan bebatuan, dengan hampir setengahnya adalah ruang kosong,” kata Jourdan dalam pernyataan itu.
Baca Juga : Ilmuwan Terkejut Temukan Air dan Bahan Organik di Asteroid Ini
Saat asteroid lain menabrak Itokawa, rongga besar di antara batu ini menyerap banyak energi yang diperoleh dan menjaga struktur nya dari retakan. Dengan mekanisme seperti ini, mereka dapat bertahan dari gempuran setidaknya 10 kali lebih lama daripada asteroid lain.
Sumber : Republika.co.id







